English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Rabu, 31 Juli 2013

Buku "Itinerario naer Oost ofte Portugaels Indien" penyebab Belanda menjajah Indonesia



Tahukah Anda bahwa karena sebuah bukulah maka bangsa Belanda bisa sampai di Nusantara dan melakukan penjajahan atas bumi yang kaya raya ini selama berabad-abad? Buku tersebut berjudul Itinerario naer Oost ofte Portugaels Indien, yang ditulis Jan Huygen van Linshoten di tahun 1595. Inilah kisahnya:
Jauh sebelum Eropa terbuka matanya mencari dunia baru, warga pribumi Nusantara hidup dalam kedamaian. Situasi ini berubah drastis saat orang-orang Eropa mulai berdatangan dengan dalih berdagang, namun membawa pasukan tempur lengkap dengan senjatanya. Hal yang ironis, tokoh yang menggerakkan roda sejarah dunia masuk ke dalam kubangan darah adalah dua orang Paus yang berbeda. Pertama, Paus Urbanus II, yang mengobarkan perang salib untuk merebut Yerusalem dalam Konsili Clermont tahun 1096. Dan yang kedua, Paus Alexander VI.
Perang Salib tanpa disadari telah membuka mata orang Eropa tentang peradaban yang jauh lebih unggul ketimbang mereka. Eropa mengalami pencerahan akibat bersinggungan dengan orang-orang Islam dalam Perang Salib ini. Merupakan fakta jika jauh sebelum Eropa berani melayari samudera, bangsa Arab telah dikenal dunia sebagai bangsa pedagang pemberani yang terbiasa melayari samudera luas hingga ke Nusantara. Bahkan kapur barus yang merupakan salah satu zat utama dalam ritual pembalseman para Fir’aun di Mesir pada abad sebelum Masehi, didatangkan dari satu kampung kecil bernama Barus yang berada di pesisir barat Sumatera tengah.
Dari pertemuan peradaban inilah bangsa Eropa mengetahui jika ada satu wilayah di selatan bola dunia yang sangat kaya dengan sumber daya alamnya, yang tidak terdapat di belahan dunia manapun. Negeri itu penuh dengan karet, lada, dan rempah-rempah lainnya, selain itu Eropa juga mencium adanya emas dan batu permata yang tersimpan di perutnya. Tanah tersebut iklimnya sangat bersahabat, dan alamnya sangat indah. Wilayah inilah yang sekarang kita kenal dengan nama Nusantara. Mendengar semua kekayaan ini Eropa sangat bernafsu untuk mencari semua hal yang selama ini belum pernah didapatkannya.
Paus Alexander VI pada tahun 1494 memberikan mandat resmi gereja kepada Kerajaan Katolik Portugis dan Spanyol melalui Perjanjian Tordesillas.  Dengan adanya perjanjian ini, Paus Alexander dengan seenaknya membelah dunia di luar daratan Eropa menjadi dua kapling untuk dianeksasi. Garis demarkasi dalam perjanjian Tordesilas itu mengikuti lingkaran garis lintang dari Tanjung Pulau Verde, melampaui kedua kutub bumi. Ini memberikan Dunia Baru—kini disebut Benua Amerika—kepada Spanyol. Afrika serta India diserahkan kepada Portugis. Paus menggeser garis demarkasinya ke arah timur sejauh 1.170 kilometer dari Tanjung Pulau Verde. Brazil pun jatuh ke tangan Portugis. Jalur perampokan bangsa Eropa ke arah timur jauh menuju kepulauan Nusantara pun terbagi dua. Spanyol berlayar ke Barat dan Portugis ke Timur, keduanya akhirnya bertemu di Maluku, di Laut Banda.
Sebelumnya, jika dua kekuatan yang tengah berlomba memperbanyak harta rampokan berjumpa tepat di satu titik maka mereka akan berkelahi, namun saat bertemu di Maluku, Portugis dan Sanyol mencoba untuk menahan diri. Pada 5 September 1494, Spanyol dan Portugal membuat perjanjian Saragossa yang menetapkan garis anti-meridian atau garis sambungan pada setengah lingkaran yang melanjutkan garis 1.170 kilometer dari Tanjung Verde. Garis itu berada di timur dari kepulauan Maluku, di sekitar Guam.
Sejak itulah, Portugis dan Spanyol berhasil membawa banyak rempah-rempah dari pelayarannya. Seluruh Eropa mendengar hal tersebut dan mulai berlomba-lomba untuk juga mengirimkan armadanya ke wilayah yang baru di selatan. Ketika Eropa mengirim ekspedisi laut untuk menemukan dunia baru, pengertian antara perdagangan, peperangan, dan penyebaran agama Kristen nyaris tidak ada bedanya. Misi imperialisme Eropa ini sampai sekarang kita kenal dengan sebutan “Tiga G”: Gold, Glory, dan Gospel. Seluruh penguasa, raja-raja, para pedagang, yang ada di Eropa membahas tentang negeri selatan yang sangat kaya raya ini. Mereka berlomba-lomba mencapai Nusantara dari berbagai jalur. Sayang, saat itu belum ada sebuah peta perjalanan laut yang secara utuh dan detil memuat jalur perjalanan dari Eropa ke wilayah tersebut yang disebut Eropa sebagai Hindia Timur. Peta bangsa-bangsa Eropa baru mencapai daratan India, sedangkan daerah di sebelah timurnya masih gelap.
 
Dibandingkan Spanyol, Portugis lebih unggul dalam banyak hal. Pelaut-pelaut Portugis yang merupakan tokoh-tokoh pelarian Templar (dan mendirikan Knight of Christ), dengan ketat berupaya merahasiakan peta-peta terbaru mereka yang berisi jalur-jalur laut menuju Asia Tenggara. Peta-peta tersebut saat itu merupakan benda yang paling diburu oleh banyak raja dan saudagar Eropa. Namun ibarat pepatah, “Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga”, maka demikian pula dengan peta rahasia yang dipegang pelaut-pelaut Portugis. Sejumlah orang Belanda yang telah bekerja lama pada pelaut-pelaut Portugis mengetahui hal ini. Salah satu dari mereka bernama Jan Huygen van Linschoten. Pada tahun 1595 dia menerbitkan buku berjudul Itinerario naer Oost ofte Portugaels Indien, Pedoman Perjalanan ke Timur atau Hindia Portugis, yang memuat berbagai peta dan deksripsi amat rinci mengenai jalur pelayaran yang dilakukan Portugis ke Hindia Timur, lengkap dengan segala permasalahannya.
Buku itu laku keras di Eropa, namun tentu saja hal ini tidak disukai Portugis. Bangsa ini menyimpan dendam pada orang-orang Belanda. Berkat van Linschoten inilah, Belanda akhirnya mengetahui banyak persoalan yang dihadapi Portugis di wilayah baru tersebut dan juga rahasia-rahasia kapal serta jalur pelayarannya. Para pengusaha dan penguasa Belanda membangun dan menyempurnakan armada kapal-kapal lautnya dengan segera, agar mereka juga bisa menjarah dunia selatan yang kaya raya, dan tidak kalah dengan kerajaan-kerajaan Eropa lainnya.
 
Pada tahun 1595 Belanda mengirim satu ekspedisi pertama menuju Nusantara yang disebutnya Hindia Timur. Ekspedisi ini terdiri dari empat buah kapal dengan 249 awak dipimpin Cornelis de Houtman, seorang Belanda yang telah lama bekerja pada Portugis di Lisbon. Lebih kurang satu tahun kemudian, Juni 1596, de Houtman mendarat di pelabuhan Banten yang merupakan pelabuhan utama perdagangan lada di Jawa, lalu menyusur pantai utaranya, singgah di Sedayu, Madura, dan lainnya. Kepemimpinan de Houtman sangat buruk. Dia berlaku sombong dan besikap semaunya pada orang-orang pribumi dan juga terhadap sesama pedagang Eropa. Sejumlah konflik menyebabkan dia harus kehilangan satu perahu dan banyak awaknya, sehingga ketika mendarat di Belanda pada tahun 1597, dia hanya menyisakan tiga kapal dan 89 awak. Walau demikian, tiga kapal tersebut penuh berisi rempah-rempah dan benda berharga lainnya.
Orang-orang Belanda berpikiran, jika seorang de Houtman yang tidak cakap memimpin saja bisa mendapat sebanyak itu, apalagi jika dipimpin oleh orang dan armada yang jauh lebih unggul. Kedatangan kembali tim de Houtman menimbulkan semangat yang menyala-nyala di banyak pedagang Belanda untuk mengikut jejaknya. Jejak Houtman diikuti oleh puluhan bahkan ratusan saudagar Belanda yang mengirimkan armada mereka ke Hindia Timur. Dalam tempo beberapa tahun saja, Belanda telah menjajah Hindia Timur dan hal itu berlangsung lama hingga baru merdeka pada tahun 1945.

Senin, 29 Juli 2013

Permasalahan Papua berhubungan dengan Kepentingan Asing

 Adik Obama Nostalgia Gudeg dan Pecel di Yogya   

 

Mungkin ini bukan sepenuhnya berita off the record, namun ada sebuah keanehan karena hampir semua berita terkait kunjungan Maya Soetoro (adik tiri Presiden AS) ke Yogyakarta baru-baru ini. Semua media, entah karena tidak jeli atau karena ada pangarahan keredaksian menyiarkan kunjungan ini agar fokus sajian berita seputar kunjungan MS sekadar nostalgia dan wisata.

Terkait pemberitaan seputar Maya Soetoro ke Yogya, yang di luar acara wisata dan nostalgia, boleh dibilang tidak ada. Padahal menurut sumber-sumber terpercaya, dalam kunjungan antara 10 Juli hingga 17 Juli tersebut ada beberapa pertemuan informal, seperti yang kami jelaskan di atas, dan hal ini mengindikasikan adanya “kepentingan khusus” mewakili Pemerintahan AS di Gedung Putih. 
 
Begitupun, setelah kunjungan Maya Soetoro berakhir dan kembali ke Washington, ada sebuah berita kecil di salah satu situs berita pada 25 Juni 2013. Dan situs berita tersebut anehnya merupakan satu-satunya media yang mengangkat berita ekslusif tersebut. Situs berita tersebut mengangkat berita yang bersumber dari Gubernur Papua Lukas Enembe sehubungan pertemuannya dengan MS. Dan dalam berita itu diwartakan bahwa Lukas dijanjikan akan diatur pertemuan khusus dengan Presiden Obama. Namun anehnya, selang beberapa waktu kemudian, meski di hari yang sama, situs berita ini sekali lagi meng-update berita tersebut yang persis sama dengan berita sebelumnya, namun kali ini ada tambahan berupa berita bantahan dari pihak MS bahwa dirinya tidak benar jika bersedia mengatur dan memfasilitasi pertemuan Gubernur Lukas dengan Presiden Obama. Bantahan MS mengindikasikan bahwa dia cukup gusar bukan pada klaim Gubernur Enembe, melainkan fakta bahwa dirinya telah melakukan pertemuan secara informal dengan Gubernur Papua, yang seharusnya hanya boleh dilakukan oleh pejabat pemerintahan Gedung Putih. 
 
Atas dasar fakta berita yang hanya dilansir oleh sebuah situs berita, dan itupun terkait berita pasca kunjungan MS ke Indonesia/Yogya, maka ada beberapa hal yang perlu jadi bahan perhatian kita semua.Pertama. terkait menjelang semakin dekatnya Pemilu 2014, khususnya Pemilu Presiden, maka kunjungan MS dan informasi-informasi di balik berita yang mengindikasikan kemungkinan adanya peran khusus yang dimainkan Mayauntuk menjadi jembatan penghubung Gedung Putih dengan berbagai elemen strategis di Indonesia. Kedua, kunjungan MS yang terkesan informal ke Universitas Gajah Mada (UGM) dan Universitas Islam Indonesia (UII) di Yogya, harus dibaca sebagai satu landasan merajut relasi dan kontak dengan berbagai jaringan lintas elemen dalam masyarakat Indonesia. Mengingat semakin menguatnya pengaruh para alumni UGM dan UII di berbagai sektor strategis di tanah air.
 
Manuver AS di Papua
 Papua dan Kepentingan Asing
 
Menjelang Pemilu 2014 tidak menutup kemungkinan “bermain kepentingan asing” termasuk dari AS dalam rangka mengeksplorasi beberapa calon Presiden potensial yang bisa sejalan dengan AS, dan menurut sumber kami yang terpercaya salah seorang akademisi yang sedang mendapatkan “special assignment” tersebut adalah Dr. KB. 
 
Sewaktu KB menjadi mahasiswa progam studi S-2 di Cornell University, diamenulistesistentang Bung Karno. di Cornell University Indonesia Project. Ketika Bill Clinton selesai masa jabatannnya sebagai presiden, mantan Menteri Luar Negeri, Amerika Serikat, MDA yang setelah itu menjabat Direktur salah satu NGO AS yang beroperasi di Indonesia, mengajak KB bergabung bersamanya untuk beberapa waktu. Namun beberapa waktu kemudian, ketika Presiden George W Bush sedang gencar-gencarnya mengampanyekan War on Terrorism, KB diminta bergabung dalam jajaran staf NSC. 
 
Saat ini Dr KB aktif di  CFR sebagai pakar yang spesialis Indonesia, Asia Tenggara, Timor Timur dan beberapa isu seputar penguatandemokrasi, resolusi konflik dan kesepakatan perdagangan. KB mulai debut akademiknya pada 1995, ketika mulai menerbitkan artikelnya tentang Bung Karno di Jurnal Indonesia, terbitan Cornell Indonesia Project.
 
Artikel ini semula merupakan makalah kuliah seminar yang dia presentasikan pada Desember 1994. Artikel yang intinya melakukan pemetaan terhadap berbagai kelompok yang pro dan kontra terhadap Bung Karno ini, bertajuk The Rustle of Ghost: Bung Karno in the New Order. Tentu saja resminya ini merupakan sebuah kajian akademik.
 
Namun dari dari sudut pandang analisis intelijen, momentum 1994-1995, kondisi politik dalam negeri Indonesia sudah mulai menunjukkan bahwa kekuasaan Rejim Suharto sudah mulai melemah dan kehilangan soliditasnya di kalangan internal lingkar inti kekuasaan Suharto. 
 
Artikel ini sendiri kalau disimak secara seksama, hanya menggambarkan pro kontra antara pendukung diehard Bung Karno dan kubu pro Suharto yang sejatinya anti Bung Karno.Dengan mendasarkan awal kajian pada buku karya politisi veteran Manai Sophian bertajuk “Kehormatan Bagi Yang Berhak: Bung Karno Tidak Terlibat G-30-S."
 
Namun kalau ditelisik artikel ini, fokus kajian lebih pada pemetaan siapa-siapa yang masuk kategori kubu Pro Bung Karno versus kubu anti Bung Karno. Dengan latar belakang dan setting politik waktu itu, KB dan para Indonesianist yang tidak sekadar berperan sebagai akademisi dan peneliti melainkan juga memainkan operasi khusus bagi kepentingan nasional Washington, akan memilikipemetaan yang akurat dan tepat mengenai siapa siapa saja yang masuk kategori pro Bung Karno, pro rejim Suharto dan elemen-elemen mana yang pro Suharto namun sejatinya tetap bisa jadi sekutu potensial untuk digalang dalam satu front bersama melengserkan rejim Suharto.
 
Manuver AS di Papua di era reformasi saat ini juga semakin kencang dilakukan. Di beberapa twitter, blackberry massanger ataupun sosial media berkembang pemberitaan bahwa Amerika Serikat yang sedang berada dalam krisis ekonomi, akan mencari sumber pendanaan baru seperti yang dilakukan di Semenanjung Afrika dan Arab seperti Iraq dengan membiarkan rakyat Iraq saling membunuh.
 
Berita di sosial media tersebut kemudian menuliskan target berikutnya adalah Indonesia yaitu Papua, ingat kasus Ambalat, celah minyak ini menjadi rebutan antara Inggris dan Amerika Serikat. Demikian juga dengan Papua, setelah mereka menempatkan 2.500 personel marinirnya di Port Darwin, Australia, rencana pelayaran pasukan Australia di perairan Timor serta kunjungan para Dubes ke Papua. Tampaknya mereka sudah menyiapkan rencana jangka panjang mulai festival budaya internasional diwakili Kabupaten Alor, NTT yang akan berlomba pada Agustus 2013 di AS. Kabupaten ini berbatasan langsung dengan Australia dan lautnya paling indah nomor dua sedunia setelah Hawaii, kemudian ada Sail Komodo 2013, setiap bulan terinformasi bahwa Dubes AS berkunjung di Pulau Rinca yang berhadapan langsung dengan daerah Sape yang mempunyai 4 titik tambang emas. Bahkan, GS salah seorang milyarder AS yang pernah memasuki Papua dengan passport palsu yang kemudian ditangkap Kopassus.
 
Bahkan, menurut berita-berita yang ada di sosial media juga disebarkan rencana kunjungan salah seorang staf Kedubes AS di Papua pada 28 dan 29 Juli 2013 untuk beraudiensi dengan sejumlah sayap politik Papua dari kelompok civil society seperti kelompok NGO dan lembaga hukum yang selama ini menyoroti permasalahan di Papua. Rencana pertemuan staf Kedubes AS tersebut akan dilaksanakan di salah satu cafe di Jayapura maupun Wamena. 
 
Pemberitaan baik melalui situs berita ataupun sosial media terkait dengan perkembangan terkini terutama masalah Papua harus menjadi perhatian instansi terkait di Indonesia terutama jajaran Kementerian Luar Negeri, Imigrasi dan Kemendagri. Bagaimanapun juga, dalam konteks hubungan internasional yang sehat, equal dan dinamis, maka kunjungan-kunjungan staf kedubes tersebut harus dikoordinasikan dengan Kemlu, apabila tidak dilakukan itu sama artinya dengan sudah “mencampuri urusan dalam negeri” Indonesia. Sekali lagi, waspadalah terhadap berbagai kemungkinan skenario terkait Papua yang dirancang kepentingan asing.

Tags

Entri Populer